Dukung Kolaborasi Cegah Bullying
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani menegaskan, persoalan bullying (perundungan) masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Penanganannya harus secara kolaboratif.
Rany menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam Seminar dan Diskusi Interaktif bertema ‘Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman’ di Jakarta Barat, Kamis (29/1).
Menurut dia, tindakan bullying kerap berawal dari candaan. Para pelaku tidak menyadari dampaknya.
“Bullying itu suatu tindakan yang awalnya mungkin tidak ada niat untuk bully,” ujar Rany.
Kegiatan tersebut, lanjut dia, dapat menjadi contoh bagi wilayah lain. Menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
“Jakarta Barat bisa menjadi contoh atau menularkan ke wilayah lainnya,” kata Rany.
Ia berpendapat, beban menciptakan sekolah aman tidak bisa hanya kepada sekolah atau orangtua. “Perlu kerja sama semua pihak,” tegas Rany.
Dukungan dari berbagai instansi ucap dia, sangat penting. Termasuk SKPD dan aparat penegak hukum (APH). Terutama bila terdapat unsur pidana dalam kasus bullying.
“Tentunya dari APH-APH ini bisa menjelaskan sanksi-sanksi seperti apa,” kata Rany.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan agar memotivasi para siswa agar fokus pada hal-hal positif. “Mari kita fokus untuk terus berkarya, berprestasi,” ucap Rany.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat Agus Ramdani mengungkapkan, telah meluncurkan Program Jarak Aman.
Hal itu sebagai upaya konkret menciptakan budaya sekolah ramah anak. “Hari ini saya meluncurkan program jarak aman tentunya membutuhkan dukungan seluruh stakeholder,” ungkap Agus.
Program itu, jelas Agus, antara lain membuka akses pelaporan seluas-luasnya serta membentuk Satgas Teman Aman melalui tutor sebaya.
Pendekatan teman sebaya lebih efektif dalam mengedukasi siswa sekolah. “Tentunya lebih gampang. Lebih mudah jika dengan teman sebaya,” tutur Agus.
“Bersinergi untuk menciptakan budaya sekolah yang ramah anak, aman dan nyaman,” pungkas Agus. (gie/df)
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani menegaskan, persoalan bullying (perundungan) masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Penanganannya harus secara kolaboratif.
Rany menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam Seminar dan Diskusi Interaktif bertema ‘Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman’ di Jakarta Barat, Kamis (29/1).
Menurut dia, tindakan bullying kerap berawal dari candaan. Para pelaku tidak menyadari dampaknya.
“Bullying itu suatu tindakan yang awalnya mungkin tidak ada niat untuk bully,” ujar Rany.
Kegiatan tersebut, lanjut dia, dapat menjadi contoh bagi wilayah lain. Menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
“Jakarta Barat bisa menjadi contoh atau menularkan ke wilayah lainnya,” kata Rany.
Ia berpendapat, beban menciptakan sekolah aman tidak bisa hanya kepada sekolah atau orangtua. “Perlu kerja sama semua pihak,” tegas Rany.
Dukungan dari berbagai instansi ucap dia, sangat penting. Termasuk SKPD dan aparat penegak hukum (APH). Terutama bila terdapat unsur pidana dalam kasus bullying.
“Tentunya dari APH-APH ini bisa menjelaskan sanksi-sanksi seperti apa,” kata Rany.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan agar memotivasi para siswa agar fokus pada hal-hal positif. “Mari kita fokus untuk terus berkarya, berprestasi,” ucap Rany.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat Agus Ramdani mengungkapkan, telah meluncurkan Program Jarak Aman.
Hal itu sebagai upaya konkret menciptakan budaya sekolah ramah anak. “Hari ini saya meluncurkan program jarak aman tentunya membutuhkan dukungan seluruh stakeholder,” ungkap Agus.
Program itu, jelas Agus, antara lain membuka akses pelaporan seluas-luasnya serta membentuk Satgas Teman Aman melalui tutor sebaya.
Pendekatan teman sebaya lebih efektif dalam mengedukasi siswa sekolah. “Tentunya lebih gampang. Lebih mudah jika dengan teman sebaya,” tutur Agus.
“Bersinergi untuk menciptakan budaya sekolah yang ramah anak, aman dan nyaman,” pungkas Agus. (gie/df)


