Jakpreneur Tak Sekadar Cetak Peserta Pelatihan

Pemprov DKI Jakarta diminta mengubah pola pembinaan pelaku UMKM. Tujuannya agar tidak berhenti pada pelatihan dan pemberian bantuan peralatan.

Program tersebut perlu lebih terarah. Memastikan usaha peserta benar-benar tumbuh dan bertahan.

Demikian diungkapkan Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh saat rapat pembahasan KUA-PPAS dan RKPD , beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, keberhasilan program pembinaan UMKM, termasuk Jakpreneur, seharusnya diukur dari jumlah pelaku usaha yang mampu mandiri. Bukan sekadar banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan.

“Jangan hanya mengejar kuantitas. Kualitas yang utama,” ujar Nova.

Pola pelatihan yang hanya berlangsung tiga hingga lima hari, kata dia, belum cukup membentuk kemampuan wirausaha.

Apalagi, pelatihan yang langsung diikuti pemberian peralatan, belum menjamin peserta mampu menjalankan usaha secara berkelanjutan.

Menurut dia, pembinaan harus berlanjut dengan pendampingan. Mencakup penyusunan model bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga pengembangan produk.

“Pelatihan jangan berhenti setelah alat diberikan,” tandas Nova.

Ia juga mengusulkan agar Pemprov DKI mengembangkan skema inkubasi bisnis dengan melibatkan perguruan tinggi sebagai mitra.

Durasi pelatihan perlu diperpanjang menjadi sekitar 10-15 hari. Dengan begiru, peserta memiliki bekal yang lebih matang, sebelum menjalankan usaha secara mandiri.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi, sambung Nova, dapat memperluas akses peserta terhadap konsultasi bisnis, pendampingan, serta jejaring usaha.

Transformasi program pembinaan tersebut, harap dia, dapat melahirkan UMKM yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Penguatan kualitas pelaku usaha juga dinilai penting untuk memperluas lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta.

“Targetnya bukan sekadar peserta pelatihan, tetapi pengusaha yang mampu bertahan dan berkembang,” pungkas Nova. (red)