Program CSR Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diharapkan lebih terarah, berdampak, dan berkelanjutan. Demikian diungkapkan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi saat meninjau kantor PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Jumat (7/8). Dalam kunjungan itu, Pansus mendatangi Sekolah Rakyat Ancol. Para anggota Pansus berinteraksi langsung dengan guru dan siswa. Melihat langsung pelaksanaan program pendidikan oleh pengelola Ancol. Pansus juga menyaksikan presentasi peran kerang hijau membantu menjernihkan air laut melalui Program Restorasi Kerang Hijau. Melihat pula proses pengolahan air laut menggunakan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) menjadi air layak digunakan. Ghozi mengatakan, peninjauan ke lapangan untuk memastikan program hasil pemaparan Ancol dalam rapat Pansus benar-benar berjalan dan bermanfaat. Terdapat tiga program yang menjadi perhatian Pansus. Yakni, Sekolah Rakyat Ancol, Restorasi Kerang Hijau, dan SWRO. Sekolah Rakyat berperan penting membantu menekan angka putus sekolah. Khususnya bagi masyarakat sekitar kawasan Ancol. “Program tersebut bagus untuk memastikan angka putus sekolah di daerah sekitar Ancol bisa hilang atau berkurang,” tandas Ghozi. Pada sektor lingkungan, Pansus mengapresiasi Program Restorasi Kerang hijau memperbaiki kualitas air laut dan ekosistem di kawasan pesisir Ancol. Teknologi SWRO merupakan pemanfaatan inovasi dalam mengolah air laut menjadi air yang layak digunakan. Ghozi menegaskan, Pansus menginginkan pelaksanaan CSR tidak secara sporadis. Setiap program harus memiliki tema, sasaran, dan keberlanjutan yang jelas. “CSR tidak boleh sporadis, tetapi harus memiliki tema. Kami sudah menyepakati salah satu fokusnya pada sektor sosial dan lingkungan, dan Ancol sudah menjalankan dua hal tersebut,” jelas Ghozi. Ia berharap, BUMD dan perusahaan lain menerapkan pola serupa. Sehingga, Program CSR bersinergi dengan kebutuhan masyarakat serta program Pemprov DKI. “Membantu masyarakat agar program tersebut berdampak dan dirasakan langsung,” tambah Ghozi. Anggota Pansus M. Taufik Zoelkifli mengungkapkan hal senada. Program Restorasi Kerang Hijau menunjukkan dana CSR berkontribusi terhadap pemulihan lingkungan. “Saya sangat terkesan dengan kerang hijau. Lingkungan hidup ternyata bisa diperbaiki dengan menggunakan dana CSR,” tutur Taufik. Ia berharap, pendekatan serupa dapat ditularkan kepada BUMD lain. “CSR dari BUMD atau perusahaan lain bisa membantu kelestarian lingkungan hidup kita,” ucap Taufik. Menanggapi hal itu, Direktur Operasional PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk Eddy Prastiyo menyatakan, akan terus meningkatkan pelaksanaan CSR agar lebih tepat sasaran. Pada sektor sosial maupun lingkungan. Ia juga menyambut arahan Pansus mengenai penyatuan tema CSR bagi BUMD di Jakarta. Sebab, membantu perusahaan menentukan fokus program ke depan. “Kami berterima kasih sudah diberi arahan terkait penyatuan tema untuk seluruh BUMD yang ada di Jakarta,” pungkas Eddy. (all/df)

Program CSR Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diharapkan lebih terarah, berdampak, dan berkelanjutan. Demikian diungkapkan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi saat meninjau kantor PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk.

Dalam kunjungan itu, Pansus mendatangi Sekolah Rakyat Ancol. Para anggota Pansus berinteraksi langsung dengan guru dan siswa. Melihat langsung pelaksanaan program pendidikan oleh pengelola Ancol.

Pansus juga menyaksikan presentasi peran kerang hijau membantu menjernihkan air laut melalui Program Restorasi Kerang Hijau. Melihat pula proses pengolahan air laut menggunakan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) menjadi air layak digunakan.

Ghozi mengatakan, peninjauan ke lapangan untuk memastikan program hasil pemaparan Ancol dalam rapat Pansus benar-benar berjalan dan bermanfaat.

Terdapat tiga program yang menjadi perhatian Pansus. Yakni, Sekolah Rakyat Ancol, Restorasi Kerang Hijau, dan SWRO. Sekolah Rakyat berperan penting membantu menekan angka putus sekolah. Khususnya bagi masyarakat sekitar kawasan Ancol.

“Program tersebut bagus untuk memastikan angka putus sekolah di daerah sekitar Ancol bisa hilang atau berkurang,” tandas Ghozi.

Pada sektor lingkungan, Pansus mengapresiasi Program Restorasi Kerang hijau memperbaiki kualitas air laut dan ekosistem di kawasan pesisir Ancol. Teknologi SWRO merupakan pemanfaatan inovasi dalam mengolah air laut menjadi air yang layak digunakan.

Ghozi menegaskan, Pansus menginginkan pelaksanaan CSR tidak secara sporadis. Setiap program harus memiliki tema, sasaran, dan keberlanjutan yang jelas.

“CSR tidak boleh sporadis, tetapi harus memiliki tema. Kami sudah menyepakati salah satu fokusnya pada sektor sosial dan lingkungan, dan Ancol sudah menjalankan dua hal tersebut,” jelas Ghozi.

Ia berharap, BUMD dan perusahaan lain menerapkan pola serupa. Sehingga, Program CSR bersinergi dengan kebutuhan masyarakat serta program Pemprov DKI.

“Membantu masyarakat agar program tersebut berdampak dan dirasakan langsung,” tambah Ghozi.

Anggota Pansus M. Taufik Zoelkifli mengungkapkan hal senada. Program Restorasi Kerang Hijau menunjukkan dana CSR berkontribusi terhadap pemulihan lingkungan.

“Saya sangat terkesan dengan kerang hijau. Lingkungan hidup ternyata bisa diperbaiki dengan menggunakan dana CSR,” tutur Taufik.

Ia berharap, pendekatan serupa dapat ditularkan kepada BUMD lain. “CSR dari BUMD atau perusahaan lain bisa membantu kelestarian lingkungan hidup kita,” ucap Taufik.

Menanggapi hal itu, Direktur Operasional PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk Eddy Prastiyo menyatakan, akan terus meningkatkan pelaksanaan CSR agar lebih tepat sasaran. Pada sektor sosial maupun lingkungan.

Ia juga menyambut arahan Pansus mengenai penyatuan tema CSR bagi BUMD di Jakarta. Sebab, membantu perusahaan menentukan fokus program ke depan.

“Kami berterima kasih sudah diberi arahan terkait penyatuan tema untuk seluruh BUMD yang ada di Jakarta,” pungkas Eddy. (all/df)