Kurangnya minat baca masyarakat menjadi perhatian pemerintah daerah. Perlu langkah agresif dan inovatif menggenjot pertumbuhan literasi, Hal itu diungkapkan Ketua Komisi E DPRD DKI jakarta M. Subki dalam pembahasan Rancangan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2026 bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip). “Kita semua menyoroti minat masyarakat untuk membaca. Kita sadari sangat menurun,” ujar Subki, Jumat (14/8). Berdasarkan data dari laman resmi Dispusip DKI Jakarta, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) DKI Jakarta pada 2025 tercatat sebesar 73,26 atau hanya meningkat 0,33 poin dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 72,93. Capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan. Namun menurut Komisi E, penguatan program dan inovasi tetap perlu agar kegemaran membaca masyarakat terus meningkat. Menurut dia, Dispusip perlu memperkuat berbagai program yang mampu mendorong masyarakat. Khususnya, anak-anak dan pelajar agar lebih aktif memanfaatkan fasilitas perpustakaan. “Maka kita minta upaya-upaya yang lebih agresif, lebih inovatif dari Dinas Perpustakaan,” tandas Subki. Keberadaan perpustakaan tidak hanya sebatas menyediakan koleksi buku. Akan tetapi, harus mampu menjadi ruang menarik bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. “Untuk mendorong warga hadir di perpustakaan,” ucap Subki. Selain penguatan Program Literasi, Komisi E juga mengingatkan agar perubahan anggaran tetap memprioritaskan kegiatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat. “Kita mengharapkan seremoni-seremoni yang kira-kira gak terlalu penting dihilangkan,” tegas Subki. Ia mendorong agar anggaran mengarah pada kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Termasuk penguatan layanan perpustakaan keliling serta berbagai kegiatan di perpustakaan. Selain itu, perlu prioritas program yang dapat menarik anak-anak sekolah datang ke perpustakaan. Meningkatkan budaya membaca di Jakarta. “Menarik minat baca, itu mengundang anak-anak sekolah itu menjadi lebih penting,” kata Subki. Pemahaman mengenai arsip sangat penting. Edukasi mengenai budaya menjaga arsip perlu diperluas kepada masyarakat. “Karena ini kan sebetulnya menjaga arsip itu kebutuhan setiap warga ya,” tutur Subki. Ia menyebut, sudah meminta seluruh Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga dokumen dan arsip. “Kita sudah dorong terus semua Sudin-Sudin untuk melakukan sounding ke masyarakat,” jelas Subki. Ke depan, edukasi tak cukup melalui Sudin. Namun harus menyasar lingkungan sekolah. Sehingga generasi muda semakin paham mengelola dan melindungi arsip. Digitalisasi arsip penting bagi Jakarta yang masih menghadapi risiko bencana. Seperti banjir dan kebakaran yang dapat menyebabkan dokumen masyarakat rusak atau hilang. “Jakarta kan masih suka ada banjir, suka ada kebakaran, itu kan penting,” kata Subki. Menurut dia, digitalisasi merupakan solusi untuk memastikan dokumen penting tetap aman. Dengan demikian, arsip fisik tidak rusak dan hilang. Penguatan literasi dan edukasi kearsipan menghadirkan program yang semakin dekat dengan masyarakat. Bermanfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. (gie/df)

Kurangnya minat baca masyarakat menjadi perhatian pemerintah daerah. Perlu langkah agresif dan inovatif menggenjot pertumbuhan literasi,

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi E DPRD DKI jakarta M. Subki dalam pembahasan Rancangan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2026 bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip).

“Kita semua menyoroti minat masyarakat untuk membaca. Kita sadari sangat menurun,” ujar Subki.

Berdasarkan data dari laman resmi Dispusip DKI Jakarta, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) DKI Jakarta pada 2025 tercatat sebesar 73,26 atau hanya meningkat 0,33 poin dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 72,93.

Capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan. Namun menurut Komisi E, penguatan program dan inovasi tetap perlu agar kegemaran membaca masyarakat terus meningkat.

Menurut dia, Dispusip perlu memperkuat berbagai program yang mampu mendorong masyarakat. Khususnya, anak-anak dan pelajar agar lebih aktif memanfaatkan fasilitas perpustakaan.

“Maka kita minta upaya-upaya yang lebih agresif, lebih inovatif dari Dinas Perpustakaan,” tandas Subki.

Keberadaan perpustakaan tidak hanya sebatas menyediakan koleksi buku. Akan tetapi, harus mampu menjadi ruang menarik bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.

“Untuk mendorong warga hadir di perpustakaan,” ucap Subki.

Selain penguatan Program Literasi, Komisi E juga mengingatkan agar perubahan anggaran tetap memprioritaskan kegiatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

“Kita mengharapkan seremoni-seremoni yang kira-kira gak terlalu penting dihilangkan,” tegas Subki.

Ia mendorong agar anggaran mengarah pada kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Termasuk penguatan layanan perpustakaan keliling serta berbagai kegiatan di perpustakaan.

Selain itu, perlu prioritas program yang dapat menarik anak-anak sekolah datang ke perpustakaan. Meningkatkan budaya membaca di Jakarta.

“Menarik minat baca, itu mengundang anak-anak sekolah itu menjadi lebih penting,” kata Subki.

Pemahaman mengenai arsip sangat penting. Edukasi mengenai budaya menjaga arsip perlu diperluas kepada masyarakat. “Karena ini kan sebetulnya menjaga arsip itu kebutuhan setiap warga ya,” tutur Subki.

Ia menyebut, sudah meminta seluruh Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga dokumen dan arsip.

“Kita sudah dorong terus semua Sudin-Sudin untuk melakukan sounding ke masyarakat,” jelas Subki.

Ke depan, edukasi tak cukup melalui Sudin. Namun harus menyasar lingkungan sekolah. Sehingga generasi muda semakin paham mengelola dan melindungi arsip.

Digitalisasi arsip penting bagi Jakarta yang masih menghadapi risiko bencana. Seperti banjir dan kebakaran yang dapat menyebabkan dokumen masyarakat rusak atau hilang.

“Jakarta kan masih suka ada banjir, suka ada kebakaran, itu kan penting,” kata Subki.

Menurut dia, digitalisasi merupakan solusi untuk memastikan dokumen penting tetap aman. Dengan demikian, arsip fisik tidak rusak dan hilang.

Penguatan literasi dan edukasi kearsipan menghadirkan program yang semakin dekat dengan masyarakat. Bermanfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. (gie/df)