Kampung Pencegah Krisis Planet, Inovasi Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mengunjungi Kampung Pencegah Krisis Planet di RT 008/RW 04, Malaka Jaya, Duren Sawit, Minggu (2/8).
Dalam kunjungan tersebut, Wibi berdialog dengan Ketua RT 008/RW 04 Taufiq Supriadi. Sekaligus, melihat langsung berbagai inovasi pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Warga setempat mengembangkan budidaya lele di saluran air, pengolahan sampah organik melalui sistem closed loop, hingga kandang ayam mini. Seluruh hasil pengelolaan itu untuk mendukung ketahanan pangan warga.
Pada kesempatan itu, Wibi dan Taufiq membagikan telur hasil peternakan ayam kepada balita di lingkungan RT 008/RW 04. Bagian dari upaya pemenuhan gizi masyarakat.
Menurut Wibi, model pengelolaan lingkungan warga Malaka Jaya mampu menyelesaikan persoalan sampah. Bahkan, menciptakan perputaran ekonomi. Termasuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat lingkungan.
Ia berharap, seluruh RT di Jakarta punya visi yang sama. Mengelola lingkungan ke arah yang lebih maju. “Saya mengapresiasi Pak Taufiq. Beliau sosok yang sangat menginspirasi,” ujar Wibi.
Konsep tersebut, kata Wibi, layak menjadi percontohan di wilayah lain. Dukungan anggaran Pemprov DKI dan CSR akan mampu mengembangkan konsep tersebut secara bertahap.
“Kita mulai dari tingkat kelurahan. Ada satu RT percontohan seperti ini,” kata Wibi.
Menurut dia, pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan budidaya ikan, maggot, dan peternakan ayam mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
“Telur itu bisa dimanfaatkan untuk intervensi balita stunting maupun ibu hamil,” jelas Wibi.
Ia juga menilai, Kampung Pencegah Krisis Planet berpotensi menjadi pusat edukasi lingkungan bagi pelajar hingga tamu dari berbagai daerah maupun luar negeri.
Karena itu, butuh dukungan program dan sarana preasaran dari pemerintah. “Harus melihat lingkungannya didukung pemerintah melalui sarana dan prasarana yang baik,” tutur Wibi.
Terkait tindak lanjut, sambung Wibi, DPRD akan mencermati peluang dukungan melalui pembahasan APBD Perubahan 2026 dan APBD 2027. Termasuk skema program yang mereplikasi model tersebut di berbagai wilayah Jakarta.
Sementara itu, Ketua RT 008/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya Taufiq Supriadi mengapresiasi kunjungan Wibi. Warga mengembangkan konsep Survival Architecture Indonesia dengan memanfaatkan sampah organik dan nonorganik sebagai sumber daya lingkungan.
Khusus sampah organik. Seluruhnya diolah melalui sistem closed loop. Sehingga, tidak lagi membuang sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
“Program ini sudah kami jalankan selama dua tahun terakhir. Jadi ketika sekarang ada Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, bagi kami ini bukan sesuatu yang baru,” tutur Taufiq.
Ia berharap, konsep tersebut dapat direplikasi di lebih banyak wilayah Jakarta. Dengan demikian, budaya memilah dan mengolah sampah mulai dari lingkungan masing-masing.
“Kami berharap RT-RT di DKI Jakarta mulai mengolah sampah organiknya sendiri,” tambah Taufiq.
Menurut dia, pemerintah harus terus bergerak. Masyarakat juga berkomitmen menjaga Jakarta mulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing. (all/df)


