Sistem Pengelolaan Sampah Mandiri di Pasar
Komisi B DPRD DKI Jakarta meminta Perumda Pasar Jaya segera menerapkan sistem pengelolaan sampah mandiri berbasis teknologi di pasar-pasar skala besar.
Sistem itu jauh lebih efektif mengurangi penumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Demikian ungkap Ketua Komisi B Nova Harivan Paloh usai rapat pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Perubahan DKI Jakarta Tahun Anggaran 2026, Selasa (7/7).
Nova menyampaikan, pasar induk dan pasar-pasar besar di Jakarta harus mulai mengadopsi teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan.
Misalnya, menyediakan tempat pengolahan sampah menjadi pupuk kompos atau bentuk energi terbarukan. “Harus benar-benar punya sistem pengolahan sampah berbasis teknologi dan AMDAL-nya (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) harus terpenuhi,” ujar Nova.
Hasil pengelolaan sampah mandiri, lanjut dia, harus memiliki input dan output yang jelas. Termasuk mengurangi hasil limbah dari hulu ke hilir.
“Problem-nya sekarang kalau kita pilah-pilah aja, kita kirim lagi ke Bantar Gebang ya sama aja. Artinya setelah dipilah, harus punya pengelolaannya juga yang bagus untuk pasar-pasar yang besar,” tambah dia.
Revitalisasi Pasar
Nova menyoroti proses revitalisasi sejumlah pasar tradisional yang berjalan lamban. Satu di antaranya Pasar Minggu yang tak kunjung diperbaiki pasca kebakaran. Padahal, Pasar Minggu merupakan salah satu pasar besar strategis.
Menurut dia, revitalisasi sangat mendesak untuk mengembalikan kelayakan tempat usaha serta kenyamanan pedagang dan pembeli.
“Tadi saya tanyakan juga kapan itu untuk bisa dituntaskan, katanya lagi nyari investor untuk merevitalisasi,” pungkas dia. (apn/df)


