Creative Financing Perkuat PAD

Komisi C DPRD DKI Jakarta mendorong Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pemungut retribusi memperkuat strategi pembiayaan kreatif (creative financing) guna menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sekretaris Komisi C Ismail mengatakan, strategi pembiayaan kreatif perlu menjadi perhatian serius setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dengan begitu, pemerintah daerah punya sumber pendapatan baru.

Demikian ungkap Ismail usai rapat kerja Komisi C bersama SKPD dan SKPD pemungut retribusi di Ruang Rapat Komisi C DPRD DKI Jakarta, Rabu (20/5).

“PAD mungkin hanya bisa kita tingkatkan dengan melakukan creative financing,” ujar Ismail.

Menurut dia, potensi pembiayaan kreatif di antaranya dengan optimalisasi aset milik Pemprov DKI Jakarta.

Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD), kata Ismail, mulai menginventarisasi dan memetakan pengembangan aset Barang Milik Daerah (BMD) yang memiliki nilai ekonomi.

“Potensi untuk dimonetisasi,” jelas Ismail.

Optimalisasi aset tidak hanya terbatas pada lahan kosong. Aset yang telah memiliki bangunan juga dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Selama memberikan manfaat bagi daerah.

“Termasuk melalui kerja sama dengan pihak ketiga atau swasta,” terang Ismail.

Ia menegaskan, pengelolaan aset harus memberi nilai tambah terhadap APBD. Sehingga, aset daerah tidak hanya menjadi beban pemeliharaan.

“Jangan sampai menjadi beban APBD, tetapi hasilnya harus bisa masuk kembali ke APBD,” tandas Ismail.

Menanggapi hal itu, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, mendorong OPD mencari skema pembiayaan kreatif.

“Melakukan creative financing untuk membantu kegiatan-kegiatan prioritas tetap berjalan,” kata Suharini.

Komisi C berharap, setiap OPD mampu menghadirkan strategi lebih inovatif. Menggali potensi pendapatan daerah. Penguatan PAD tidak dapat lagi hanya mengandalkan pola konvensional.

“Sehingga bisa sama-sama menopang target PAD kita,” pungkas Ismail. (all/df)