Ketidakpastian Global, Wibi Dorong HIPMI Jaya sebagai Penggerak Ekonomi Jakarta

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mendorong Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (HIPMI Jaya) mengambil peran lebih besar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Hal itu disampaikan Wibi usai menghadiri Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Daerah (Diklatda) HIPMI Jaya 2026 di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta, Kamis (21/5).

Wibi menilai, ketidakpastian ekonomi global turut berdampak terhadap perekonomian Jakarta. Karena itu, sektor swasta perlu bergerak lebih aktif untuk menopang aktivitas ekonomi daerah.

“Hari ini ekonomi global sudah masuk ke masa ketidakpastian. Tentunya dampaknya juga terasa di Jakarta,” ujar Wibi.

Tantangan ekonomi Jakarta juga berkaitan dengan ruang fiskal yang semakin terbatas. Kondisi tersebut menuntut kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, legislatif, dan pelaku usaha.

“Dengan kontraksi fiskal yang semakin terbatas, APBD kita juga terus menurun,” kata Wibi.

Wibi menyebut HIPMI Jaya memiliki potensi besar untuk memperluas kegiatan usaha, membuka lapangan kerja, dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat.

“Bagaimana teman-teman di sektor swasta mampu terus bergerak secara masif dan dinamis untuk menjadi tulang punggung pertumbuhan perekonomian kita,” jelas Wibi.

Ia berharap, kader HIPMI Jaya tetap fokus pada pengembangan usaha masing-masing. Namun, ikut memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Jakarta.

“Inilah yang saya minta, hari ini saatnya kita memberikan kontribusi nyata kepada pembangunan bangsa,” terang Wibi.

Senada dengan itu, Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Jaya Muhammad Riandy Haroen menilai pengusaha muda harus mampu membaca situasi global dan menyesuaikan strategi bisnis di tengah tekanan ekonomi.

“Sesuai tema, kita harus mencermati keadaan global yang memang sedang tidak menentu,” ujar Riandy.

Riandy mengatakan Jakarta memiliki posisi penting karena menjadi pusat ekonomi nasional. Pengusaha muda di Jakarta perlu menjaga daya tahan usaha dan memperkuat sinergi dengan pemangku kepentingan.

“Jakarta merupakan pusat atau episentrum perekonomian Indonesia yang menyumbang kurang lebih 16 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional,” kata Riandy.

Ia juga mengingatkan anggota HIPMI Jaya untuk lebih jeli melihat peluang di tengah meningkatnya biaya usaha dan persaingan yang semakin ketat.

“Ekonomi DKI Jakarta memang tumbuh 5,21 persen, tetapi biayanya juga naik, margin kita terkikis, dan persaingan pun semakin kompetitif,” jelas Riandy.

Riandy berharap, Diklatda HIPMI Jaya 2026 dapat memperkuat jejaring, kapasitas, dan kesiapan pengusaha muda dalam menghadapi dinamika ekonomi Jakarta.

“Manfaatkan kegiatan ini tidak hanya sebagai seremonial. Manfaatkan untuk berjejaring,” pungkas Riandy. (all/df)