Tindak Kriminal di Jakarta Meningkat

Maraknya tindak kriminal belakangan ini membuat warga Jakarta resah. Aksi begal, jambret, hingga pencurian sepeda motor disertai ancaman senjata api terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Komisi A DPRD Provinsi DKI Jakarta.

Menanggapi keresahan masyarakat, Pemprov DKI Jakarta bersinergi dengan Polda Metro Jaya mengintegrasikan ribuan kamera pengawas atau Closed Circuit Television (CCTV) di berbagai titik strategis.

Langkah itu dapat memperkuat penanganan kriminalitas, kemacetan lalu lintas, hingga banjir.

Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Kevin Wu mencontohkan, sejumlah kasus kriminal yang terjadi belakangan ini.

Di antaranya pencurian sepeda motor disertai ancaman senjata api di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu (9/5/2026), serta penjambretan terhadap wisatawan asing di Bundaran Hotel Indonesia pada Rabu (14/5/2026).

“Pemprov DKI harus ikut aktif dalam pemberantasan kriminalitas. Pengamanan Jakarta tidak bisa hanya dibebankan kepada Polda Metro Jaya,” ujar Kevin, Rabu (18/5).

Politisi Fraksi PSI itu menilai seluruh unsur pemerintahan daerah, mulai dari wali kota, camat, lurah, Satpol PP, Dinas Perhubungan hingga pengurus wilayah perlu terlibat aktif dalam upaya pencegahan kejahatan.

Menurut dia, keterlibatan Pemprov dapat diwujudkan melalui dukungan infrastruktur keamanan seperti penerangan jalan dan CCTV di titik rawan, mempercepat respons kanal pengaduan, serta memperkuat patroli gabungan.

“Kriminalitas jalanan bukan hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga merusak citra Jakarta sebagai kota global,” tegasnya.

Apresiasi Tim Pemburu Begal

Secara terpisah, Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta M. Fuadhi Luthfi mengapresiasi langkah Polda Metro Jaya membentuk Tim Pemburu Begal yang disiagakan selama 24 jam.

“Langkah ini tepat dan harus berjalan konsisten, bukan hanya merespons kasus viral,” kata Fuadhi.

Politisi PKB itu menilai, tim tersebut harus hadir di titik rawan, terutama pada malam hingga dini hari di kawasan permukiman padat, pusat ekonomi, jalur pulang kerja, dan lokasi yang sering terjadi tindak kejahatan.

Kevin Wu dan Fuadhi Luthfi menegaskan, keberhasilan Tim Pemburu Begal tidak hanya diukur dari penangkapan sejumlah pelaku. Tetapi juga dari menurunnya angka kriminalitas dan meningkatnya rasa aman masyarakat.

Integrasi CCTV

Sementara itu, Senin (18/5), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri menandatangani nota kesepakatan kerja sama sistem pengawasan kota melalui integrasi CCTV di berbagai titik.

Pramono mengatakan integrasi CCTV menjadi bagian penting transformasi Jakarta menuju kota global berbasis teknologi dan data.

“Kita tidak bisa lagi mengelola kota sebesar Jakarta dengan cara manual dan konvensional,” tegas dia.

Selama ini, jelas Pramono, kamera pengawas masih dikelola secara terpisah oleh Pemprov, kepolisian, maupun pihak swasta. Melalui integrasi, seluruh sistem pengawasan akan disatukan dalam konsep berbagi pakai.

“Sistem CCTV terintegrasi akan memperkuat pengawasan lalu lintas, titik rawan banjir, pelayanan publik, hingga penanganan kriminalitas,” ucap dia.

Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menyambut baik kerja sama tersebut. Integrasi CCTV penting untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan berbasis data.

“Ketika ada gangguan keamanan atau kemacetan, lokasi bisa segera terpantau,” kata dia.

Meski demikian, tegas Asep, penggunaan CCTV tetap harus memperhatikan perlindungan privasi masyarakat.

Kini, terdapat 7.314 titik CCTV di area publik yang berpotensi terintegrasi. Pada tahap awal, sebanyak 3.362 unit dapat dimanfaatkan oleh Polda Metro Jaya dan Polri.

Pada 2027, ditargetkan penambahan 16.781 unit CCTV sehingga total potensi kamera pengawas yang terintegrasi mencapai 24.095 titik. (stw/df)